|
|
|
Jurnal hasil penelitian tahun 2004 |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penelitian Profil dan
Peranan Organisasi Lokal dalam Pembangunan Masyarakat (Nurdin Widodo & Suradi) |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Analisis Faktor Pembentuk
Kinerja Pekerja Sosial Dan Hambatannya (Ujang
T. Hidayat) Hasil analisis faktor terungkap bahwa terdapat empat faktor pembentuk kinerja pekerja sosial, yaitu : 1) faktor “tidak langsung – pengembangan”; 2) faktor “langsung – pelayanan rehabilitatif”; 3) faktor “langsung – pengembangan”, dan; faktor “tidak langsung – penunjang”. Hasil lain dari penelitian ini menunjukkan pula bahwa terdapat tiga faktor yang paling menghambat perolehan angka kredit jabatan pekerja sosial, yaitu : 1) kurangnya pendidikan dan pelatihan bagi pekerja sosial panti; 2) fasilitas kerja seperti ATK, biaya operasional, alat transportasi dan lain-lain kurang memadai; 3) tidak semua bentuk kegiatan pekerja sosial dapat dinilai sebagai angka kredit.
Kata kunci : analisis faktor, faktor penghambat, angka kredit, pekerja sosial |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Melalui metode partisipatif dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan 2 cara yaitu Diskusi Kelompok Terarah (FGD) dan Teknik Partisipasi (TOP) maka model yang ditawarkan tidak sepenuhnya dapat diterapkan karena disesuaikan dengan kondisi forum dan masyarakat setempat. Model yang diterapkan adalah kombinasi antara model yang ditawarkan dengan rencana aksi berdasarkan aspirasi anggota forum sendiri. Akhirnya terbentuklah Forum ASA-Narkoba yang mempunyai program kegiatan dalam hal penanggulangan penyalahgunaan narkoba melalui kegiatan preventif edukatif. Walau terdapat beberapa hambatan dalam melaksanakan kegiatan namun banyak pula tanggapan positif dari instansi pemerintah maupun masyarakat terhadap keberadaan forum ini. Pada tahun 2004 ini forum ASA-Narkoba berencana menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, hal ini menunjukkan efektifnya pemberdayaan pranata sosial melalui forum ini dalam menanggulangi penyalahgunaan narkoba di Kota Mataram. |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Setiap hari informasi penangkapan/penggerebekan Bandar narkoba dan pemakai oleh aparat kepolisian di seantero wilayah republik ini dilaporkan oleh media massa dan media elektronik. Begitu pula penyelundupan narkoba dari luar negeri dapat dibongkar oleh aparat Bea Cukai dan Kepolisian. Namun sepertinya masalah ini tidak ada habis-habisnya. Para pemakai/pengguna rasanya tidak pernah berkurang jumlahnya seperti yang diungkapkan oleh media massa dan elektronik. Salah satu upaya menekan lajunya peredaran narkoba ini adalah mencegah menjalarnya peredaran ditingkat lokal oleh pranata sosial setempat. G-Santun (Gerakan Sosial Anti Narkoba Medan Tuntungan) yang merupakan kolaborasi/gabungan beberapa pranata sosial di Kecamatan Medan Tuntungan, menjadi salah satu upaya pencegahan peredaran narkoba di tingkat paling bawah. Mereka telah melakukan upaya penyuluhan ke beberapa sekolah lanjutan yang ada di Medan. Salah satu prinsipnya lebih baik mencegah dari pada mengobati yang sudah terkena narkoba. Masih ada beberapa kegiatan yang berhubungan dengan upaya mengatasi masalah narkoba ini. Kolaborasi pranata sosial ini cukup baik dan dianggap ampuh dalam mengantisipasi masalah narkoba pada masa mendatang, karena mereka mengetahui dengan tepat akan kondisi dan keberadaan warga masyarakatnya. Memang tidak mudah menyatukan beberapa unsur pranata sosial yang ada, tapi dengan pengarahan dan persiapan yang terencana, kolaborasi ini dapat diciptakan, seperti G-Santun. |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jurnal hasil penelitian tahun 2005 |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kondisi Keluarga Fakir
Miskin (Gunawan & Sugiyanto) |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Hasil penelitian menunjukkan, meskipun lembaga lokal (masyarakat) telah menunjukkan kinerjannya (pada awal implementasi program), dimana telah mampu melakukan pembangunan sejumlah prasarana desa melalui dana hibah program ditambah swadaya masyarakat setempat, menyalurkan dana kepada KSM, dan telah mampu menggulirkan beberapa kali, tetapi jika dicermati (setelah program menginjak tahun kedua), dapat dinyatakan belum/tidak terjadi proses pemberdayaan (khususnya) bagi warga miskin, karena: (a) tidak terjadi transfer daya kepada warga miskin, sebab program lebih dimanfaatkan oleh kelompok yang mampu; (b) proses belajar sosial tidak berlangsung, sebab program lebih bernuansa economic; dan (c) lembaga lokal masyarakat lebih berperan sebagai penyalur kredit dari pada lembaga pemberdayaan. Terkait dengan itu, saran ditekankan pada kualitas pelaku program (khususnya di lapngan), yaitu: (a) perlu mempunyai pemahaman secara baik terhadap konsep P2KP; (b) perlunya pelaksanaan sosialisasi program secara benar yang lebih diarahkan pada penyadaran tentang permasalahan yang dihadapi dan tumbuhnya semangat untuk memecahkan secara mandiri; (c) perlunya pendampingan secara berkelanjutan terhadap lembaga lokal masyarakat dalam kurun waktu tertentu, sehingga lembaga lokal masyarakat tersebut dipandang mampu melakukan penanganan masalah (khususnya) kemiskinan warganya secara mandiri.
Kata kunci: Pengedepanan strategi pemberdayan berbasis lembaga lokal, kemiskinan perkotaan. |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Focus penelitian ini adalah untuk menjaring konsepsi berbagai etnis, agama, dan pelapisan masyarakat tentang konflik dan kedamaian, termasuk konsepsi mereka tentang hak dan kewajiban pemerintah dalam menjalankan fungsinya sebagai payung bagi seluruh etnis, agama, dan pelapisan masyarakat. Hal ini berdasarkan hipotesis bahwa; “kerusuhan di berbagai wilayah tanah air dalam persepsi berbagai etnis, agama, dan pelapisan masyarakat berhubungan dengan kesenjangan sosial ekonomi, keagamaan, perilaku antaretnis, kurangnya peran lembaga sosial pemerintah, keberpihakan aparat dalam menyelesaikan kerusuhan, di sisi lain keikutsertaan mereka memicu kerusuhan itu’. Untuk menguji hipotesis ini, teori yang digunakan adalah; teori fungsional Talcott Parsons, teori konflik Dahrendrof kebalikan teori kohesi Malinowski, dan teori kebudayaan dominant Parsudi Suparlan. Sedangkan metode penelitian yang di gunakan adalah gabungan antara kuantitatif dan kualitatif, dengan instrument kuesioner dan wawancara mendalam. |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pembangunan Komunitas
Peduli Anak di Kampung Belakang (Anwar Sitepu) |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kehidupan Komunitas
Adat Terpencil; Studi Sosial Budaya Komunitas Osing di Banyuwangi (Suradi) |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Persepsi Legislatif tentang Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Daerah (Sutaat) Penelitian ini dilaksanakan
di tujuh propinsi, yakni Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur,
Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Papua.
Responden penelitian adalah anggota DPRD kota dan kabupaten periode
1999-2004, terutama anggota Komisi E. Hasil penelitian ini menunjukkan,
bahwa setelah responden diperkenalkan dengan konsep, kebijakan,
dan beberapa program bidang kesejahteraan sosial, secara umum mereka
setuju dengan apa yang digariskan oleh Departemen Sosial. Hal penting
yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program, adalah kesesuaiannya
dengan kondisi lokal. Kendala yang dihadapi dalam pembangunan kesejahteraan
sosial di daerah, adalah belum memadainya kualitas SDM di daerah,
diperlukan upaya pembinaan dan peningkatan kualitas SDM secara
terus menerus. Berdasarkan beberapa temuan hasil penelitian ini,
kekemukakan pula beberapa saran, antara lain perlunya sosialisasi
dan dialog sesering mungkin antara Departemen Sosial dengan lembaga
legislatif dan ekskutif di daerah. Upaya dimaksud akan lebih berhasil
bila disertai dengan publikasi berbagai produk kebijakan, program,
maupun panduan-panduan yang dapat dijadikan acuan oleh daerah dalam
melaksanakan pembangunan kesejahteraan sosial di wilayahnya. |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Selain itu kegiatan lembaga sosial yang sangat menonjol di lokasi penelitian adalah kegiatan gotong royong yang merupakan budaya masyarakat kita yang sudah mengakar dilapisan masyarakat pedesaan. Kegiatan gotong royong yang paling menonjol disini adalah dalam hal mengurusi kematian. Sumber dana untuk menunjang kegiatan lembaga tersebut berasal dari masyarakat lokal dengan cara menggalang dana anggota dari penduduk setempat yang merupakan anggota dan juga dari pengurus lembaga sendiri. Selain itu juga ada salah satu lembaga sosial yang menggalang dana dari penduduk lokal yang sudah bekerja di luar wilayah dan dianggap telah sukses dalam berusaha. |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|